Partai Buruh Unggul Atas Partai Liberal
23-08-2010 00:00
Harian Umum Tabengan,  

SYDNEY

Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Australia Julia Gillard mengungguli Partai Liberal yang dipimpin Tony Abbott, dalam pemilu yang digelar di Negeri Kanguru, Sabtu (21/8).

Komisi Pemilu Australia (AEC) mengumumkan, dari sekitar 64, 78 persen suara yang telah dihitung, Partai Buruh berhasil unggul tipis dengan perolehan 50, 95 persen, sementara Partai Liberal meraih 49, 05 persen.

Dengan hasil itu, sejauh ini Buruh berhasil mengamankan 62 kursi parlemen, sedangkan Liberal memperoleh 57 kursi dan Hijau (Greens) mendapatkan satu kursi di parlemen.

Buruh membutuhkan 17 kursi lagi untuk bisa memenangkan pemilu. Namun, partai pimpinan Gillard ini bisa kalah, jika kehilangan 13 kursi.

Bila itu terjadi, maka Australia akan menghadapi kondisi hung parliament atau tanpa suara mayoritas. Pejabat dari Buruh atau Liberal sama-sama mengungkapkan Australia akan menghadapi kondisi hung parliament untuk kali pertama sejak tahun 1940 karena tidak satu pun dari kedua partai itu terlihat mendapatkan suara mayoritas di parlemen rendah 150 kursi. “Saya rasa hung parliament semakin jelas terlihat," papar Senator Libral Nick.

Menurut Minchin setelah hasil perolehan suara sementara diumumkan ke seluruh penjuru negeri. "Saya tidak bisa melihat Koalisi (pimpinan Buruh) bisa mendapatkan 17 kursi yang dibutuhkan (untuk berkuasa).  Saya bahkan melihat Partai Liberal akan mendapatkan 15 kursi lagi saat ini.

Sentimen ini juga didukung Menteri Luar Negeri Stephen Smith dan Menteri Keuangan Bayangan Joe Hockey. Keduanya menyebut pemilu Australia akan berakhir pada kondisi hung parliament.

Sebelum pengumuman resmi dari AEC, beberapa lembaga survei telah mengeluarkan prediksi mereka. Hasilnya, sebagian besar mengunggulkan Gillard dengan selisih kecil dari Abbott. Survei yang diprakarsai Channel Nine, misalnya memprediksi Partai Buruh pimpinan Gillard bakal memenangi Pemilu dengan raihan 52 persen suara.

Kendati Partai Buruh lebih banyak diunggulkan, namun Gillard mesti berhati-hati di beberapa negara bagian. Terlebih di Queensland dan New South Wales, dua negara bagian dengan jumlah populasi terbanyak.

Sebelum pemungutan suara dibuka, Abbott sempat muncul di beberapa program televisi, juga wawancara radio. Dia berbicara tentang pemilu yang segera dilaksanakan (saat itu). Secara lantang, Abbott menyebut Pemilu sebagai “satu hari saat kita bisa memilih ke luar dari pemerintah yang buruk”.

Pemilu, lanjut Abbott, merupakan hari saat masyarakat Australia bisa memilih pemerintah yang stabil, berkompeten serta menghargai uang para pembayar pajak.

Gillard mengaku pemilu kali ini merupakan persaingan yang ketat. “Ini adalah persaingan yang berat, ketat dengan angka-angka yang cukup dekat. Namun, saya tetap menggunakan hak pilih saya,"katanya.

Baik Gillard maupun Abbott menampilkan jurus demi memperjuangkan himpunan suara bagi partainya masing-masing. Abbott sempat mengeksploitasi beberapa divisi Partai Buruh setelah Rudd jatuh.

Tujuannya supaya warga memperoleh gambaran bahwa koaliasi Liberal-Nasional oposisi adalah jawaban terbaik demi perbaikan Australia. Di pihak yang berseberangan, Gillard yang dikenal sebagai mantan pengacara berharap warga menghargai upayanya untuk mengatasi persoalan ekonomi sepanjang resesi global. b-com

Copyright Harian Umum Tabengan © 2010