Hongkong Larang Warganya ke Filipina
25-08-2010 00:00
Harian Umum Tabengan,  

HONGKONG

Hongkong menyatakan kemarahan kepada Filipina setelah delapan turis dari wilayah itu tewas dalam pembajakan bus, dengan membatalkan semua perjalanan ke sana.

Pemerintah China juga menuntut penyelidikan menyeluruh atas penanangan tragedi tersebut.

Presiden Filipina Benigno Aquino, Selasa (24/8), berjanji untuk memberikan jawaban seputar insiden tersebut.

Pertanyaan yang mengemuka termasuk bagaimana polisi gagal memasuki bus sebelum delapan turis ditembak oleh bekas polisi, Rolando Mendoza.

Panglima kepolisian di ibukota Filipina, Manila, Leocadio Santiago, membela anak buahnya menangani penyanderaan.

Santiago mengatakan, langkah membiarkan pengepungan berlanjut sudah tepat sampai sopir bus meloloskan diri dan melaporkan bahwa penyandera mulai menembaki sandera.

Polisi kemudian menyerbu bus, membunuh si pembajak, seorang bekas polisi yang kecewa karena dipecat.

Di Hongkong, aparat mengeluarkan peringatan perjalanan kategori \'hitam. Peringatan itu menyerukan seluruh perjalanan ke Filipina dibatalkan dan mendesak semua warga Hong Kong di Filipina secepat-cepatnya pulang.

Bendera Hongkong dikibarkan setengah tiang. Bursa saham mengheningkan cipta satu menit untuk para korban pembajakan.

Dua pesawat, yang mengangkut tim medis dan psikolog, dikirim untuk memulangkan korban yang selamat dari penyanderaan di Manila.

Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi menelepon Menlu Filipina Alberto Romulo untuk menyatakan China terguncang, atas pembunuhan turis Hongkong.

\'Pemerintah China menuntut pemerintah Filipina mengadakan penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut dan memberitahu Cina rincian terkait secepat-cepatnya,\'\' ujar Yang.

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Cina, Ma Zhaoxu mengatakan, China telah mengirim tim ke Manila untuk menangani perkembangan pasca insiden.

Diberitakan, delapan orang tewas dan dua luka-luka parah setelah terjadi pertumpahan darah dalam krisis penyanderaan satu hari di ibukota Filipina, Manila.

Polisi memakai topi baja dan jaket tahan peluru menyerang sebuah bis wisata yang dibajak Senin (23/8) sore, mempergunakan palu untuk memecahkan kaca kendaraan.

Bekas petugas polisi Rolando Mendoza menyandera 25 turis Hongkong dalam sebuah usaha untuk memperoleh kembali pekerjaannya. Mendoza adalah bekas inspektur polisi senior yang dipecat dari kepolisian Metro Manila pada 2008 karena tuduhan pemerasan dan menakut-nakuti.

Polisi mengatakan Mendoza tewas oleh penembak jitu polisi, tetapi ia berhasil menembaki para sandera dengan senapan serbu. Pemimpin Hongkong Donald Tsang mengatakan tujuh turis tewas dan dua luka-luka parah. Enam lainnya sedang diobati di beberapa rumah sakit Manila. b-com

Copyright Harian Umum Tabengan © 2010