Korut Ancam Dengan Nuklir
26-07-2010 00:48
Harian Umum Tabengan,  

PYONGYANG

Korea Utara (Korut) mengancam akan menggunakan senjata nuklir sebagai reaksi atas latihan bersama militer Amerika Serikat-Korea Selatan (Korsel), yang dimulai Minggu (25/7).

Washington dan Seoul mengatakan latihan perang itu bertujuan mencegah agresi Korut.

Latihan perang  dimulai  Minggu (25/7), melibatkan kapal induk USS George Washington, 20 kapal perang dan kapal selam, 100 pesawat dan 8.000 personel.

Ketegangan kedua negara Korea ini semakin memuncak sejak kapal perang Korsel tenggelam bulan Maret Lalu.

Penyelidikan internasional mengatakan kapal itu tenggelam akibat torpedo Korut tuduhan yang dibantah keras Pyongyang.

Korut,  sudah sering mengeluarkan peringatan semacam itu.

Meski ancaman tersebut seperti biasa dianggap sebagai perbedaan pendapat secara diplomatik, peningkatan ketegangan ini akan membuat sejumlah negara di wilayah khawatir.

Komisi Pertahanan Nasional Korut yang sangat berpengaruh mengatakan, bahwa latihan perang itu merupakan provokasi langsung yang bertujuan mengganggu Republik Rakyat Korut, dengan senjata..

Militer dan Rakyat Korut akan memulai perang suci balasan yang khas dengan mempergunakan alat pertahanan nuklir disaat yang diperlukan untuk melawan imperialis Amerika Serikat dan bonekanya Korsel  yang dengan sengaja mendorong situasi ini ke arah peperangan..

Sebagai tanggapan, Gedung Putih mengatakan tidak tertarik terlibat dalam perang kata-kata, dengan Korut.

Jurubicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, PJ Crowley Minggu (25/7) mengatakan, pihaknya menginginkan langkah yang lebih konstruktif dan sedikit pernyataan provokatif, dari Pyongyang.

Dalam pertemuan forum keamanan Asia Tenggara, Korut mengancam akan memberi tanggapan fisik terhadap latihan militer ini.

Jurubicara delegasi Korut di forum ASEAN mengatakan, latihan itu merupakan contoh diplomasi kapal perang abad ke 19.

"Ini merupakan ancaman bagi semenanjung Korea dan Asia secara keseluruhan," ujarnya.

Forum pertemuan itu didominasi oleh krisis antara kedua negara Korea tersebut.

China mengkritik rencana latihan perang itu dan memperingatkan agar tidak ada aksi yang bisa menambah ketegangan regional.

Namun Jepang mengirim empat pengamat militer yang merupakan satu isyarat negara itu mendukung latihan itu. b-com

Copyright Harian Umum Tabengan © 2010