![]() |
|
|
||
|
||
|
||
|
Harian Umum Tabengan,
PALANGKA RAYA Selama sepekan, Minggu (22/8) hingga Sabtu (28/8), pengawas dan kepala sekolah se-Kotawaringin Timur mengikuti pendidikan dan latihan (Diklat) penguatan kemampuan di Aula Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalteng, Palangka Raya. Salah satu materi Diklat yang diselenggarakan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kementerian Pendidikan Nasional itu ialah penyuluhan Emotional Spiritual Question (ESQ) dari Jakarta. Kegiatan ini diikuti 176 peserta dari SD, SMP, SMK dan SMA setara khusus wilayah Kabupaten Kotim. Diklat terlaksana kerja sama Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (PPPPTK BMTI) dengan LPMP Kalteng. “Kegiatan ini merujuk Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Terdapat lima dimensi kompetensi yang meliputi 33 standar kompetensi kepala sekolah,” kata Pandi, Panitia Penyelenggara Diklat kepada Tabengan, di LPMP Kalteng, Selasa (24/8). Pandi menyebutkan, Diklat Pengawas dan Kepsek se-Indonesia, pada 2014 ditargetkan sebanyak 2.291 orang semua sudah mengikuti Diklat. Diklat ini difokuskan pada pengembangan dimensi kompetensi manajerial Kepsek terkait bagaimana mengelola, memimpin, dan menyupervisi guru dalam mengembangkan pembelajaran berbasis kreativitas, inovasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan naluri kewirausahaan. Dikatakannya, PPPPTK BMTI Bandung saat ini sudah menjalin kerja sama dengan LPMP di Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Kumlah panitia Diklat I untuk wilayah Kalteng sebanyak delapan orang, dan penatar dari BMTI juga delapan orang. Adapun tujuan khusus kegiatan, pertama in service learning untuk meningkatkan kemampuan pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa dan manajemen berbasis sekolah, mengubah pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan dalam rangka melakukan perubahan. Kedua, on job learning dan in service learning 2, untuk melakukan perubahan pembelajaran melalui rencana tindak yang sudah disusun pada waktu in service 1. Dan ketiga, untuk mereflesikan dan berbagi pengalaman hasil service learning 1 dan on the job learning sesama peserta. Singgih Kartika Sekti Jaya Bhakti, Tim Training ESQ dari Jakarta menjelaskan, fokus materi ESQ adalah pengembangan kepribadian dan pengembangan smberdaya manusia (SDM). Program basic ESQ pembentukan moral dan akhlak yang baik di bidang training spiritual berlandaskan ilmu-ilmu sosial dari Indonesia. Menurut Singgih, kegiatan ini berlandaskan kitab suci yang diambil dari nilai-nilai universal yang ada pada semua agama, sehingga dapat terima untuk semua golongan, yang tidak khusus untuk satu agama. Di samping itu, berlandaskan pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 yang berbunyi, pembangunan karakter adalah dengan tujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. “Pada inti kegiatan ini, pembentukan moral dan akhlak bagi pengawas dan kepala sekolah, yang nantinya akan disalurkan kepada anak didik di sekolah masing-masing, yang kebangkitan moral tersebut dimulai dari guru-guru,” katanya. ded |
|
|
|
|
||