Jamkesda Rawan Penggunaan
18-08-2010 00:00
Harian Umum Tabengan,  

PALANGKA RAYA

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus, Palangka Raya menyatakan, jumlah peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) terus mengalami peningkatan drastis tiap tahun. Hal ini membuktikan bahwa tingkat kesadaran pasien dari keluarga miskin untuk memanfaatkan layanan makin tinggi.

Meski demikian, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus Palangka Raya dr Supratidja Budi, menduga masih terdapat sejumlah pasien mampu secara ekonomi yang sengaja memanfaatkan layanan bagi masyarakat miskin ini.

Pada umumnya, mereka sengaja mengaku sebagai keluarga miskin tanpa merasa berdosa, turut menikmati pelayanan gratis ini. "Mereka yang sudah tahu, kadang-kadang memanfaatkan kondisi. Sebetulnya mereka bukan orang miskin, tapi memanfaatkan fasilitas layanan gratis itu sehingga peningkatan jumlah pasien cukup tinggi. Kalau dulu per bulan hanya 10 orang, sekarang antara 15 sampai 20 orang per bulan," kata dr Budi, Senin (16/8).

Pasien dengan ekonomi mampu yang ikut menyerobot layanan kesehatan gratis ini, ucap Budi, biasanya mengaku sebagai keluarga  miskin, sehingga mendapat rekomendasi dari ketua RT setempat. Namun, ada juga yang justru berkomplot dengan petugas RT atau RW setempat, sehingga dengan mudah mengantongi keterangan sebagai warga miskin.

Terkait dengan kondisi demikina, dr Budi mengaku, pihak rumah sakit mengalami kesulitan dalam memilah pasien yang benar-benar miskin atau hanya tipuan di atas kertas surat keterangan tidak mampu tersebut. Sebab, pelayanan bagi pasien miskin didasarkan penunjukan  Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang dikeluarkan oleh RT atau RW.

Karena itu, pihaknya mengharapkan partisipasi ketua RT dan RW untuk memperketat pola pengawasan dan seleksi kepada warganya yang mengajukan SKTM, apakah benar-benar miskin atau justru sebaliknya.

Untuk tahun ini, lonjakan pasien Jamkesda meningkat dua kali lipat. Dari alokasi anggaran Rp4,5 miliar, saat ini (Agustus) sudah sekitar 90 persen dana tersebut telah terserap, padahal tahun berjalan pada 2010 ini masih tersisa empat bulan lebih.

Saat ini pihaknya berusaha keras menyiasati dana yang tersisa agar mencukupi kebutuhan. Caranya, pembelian obat-obatan dan peralatan didahulukan, sedangkan jika dananya tidak mencukupi, maka pemberian jasa medik untuk pegawai rumah sakit tersebut terpaksa ditunda. "Tahun lalu anggaran yang tersedia Rp5 miliar, padahal kebutuhan ril sampai Rp7 miliar, tapi itu bisa kami atasi," tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan dr Budi, layanan kesehatan gratis melalui Jamkesda diberlakukan untuk pengobatan penyakit yang bisa ditangani oleh RSUD dr Doris Sylvanus. Namun, jika pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain, perawatan selanjutnya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota tempat asal pasien.ris

 

Copyright Harian Umum Tabengan © 2010