Sinabung Meletus, 26.000 Warga Terpaksa Mengungsi
30-08-2010 00:00
Harian Umum Tabengan,  

MEDAN

Dua letusan yang terjadi di Gunung Sinabung, Jumat (27/8) sampai Sabtu (28/8) malam, memaksa sekitar 26.000 warga yang tinggal di sekitar kaki gunung mengungsi.

Menurut Suang Karo-Karo, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas) Kabupaten Karo, Minggu (29/8), pengungsi ini datang dari berbagai desa di tiga kecamatan. Kecamatan asal pengungsi ini adalah Naman Teran (tujuh desa), Payung (tiga desa), dan Tiga Derket (tiga desa).
Mereka ditampung di berbagai titik yang sudah disediakan pemerintah, di Kota Berastagi (tiga titik) dan Kota Kabanjahe (lima titik).
Bahkan ada juga yang ke Medan atau ke rumah sanak famili. Diperkirakan sekitar 6.000 pengungsi ditampung untuk sementara waktu di Kota Berastagi dan Kabanjahe.

Camat Kota Berastagi Swingli Sitepu (50), mengatakan, warga tersebut ditampung di Jambur, tempat pertemuan atau pesta perkawinan bagi masyarakat Karo.

Dikatakan, Jambur tempat yang tepat untuk penginapan para pengungsi karena, selain luas dan lokasinya dekat, mudah mengumpulkan warga. Pengungsi juga tidak perlu berpisah dengan keluarganya. Jambur memiliki  panjang 50m, lebar 20m, dan mampu menampung warga sekitar 3.000 orang.

Kementerian Sosial RI sudah mendrop bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar belasan ribu pengungsi. Walaupun yang direkomendasikan untuk mengungsi warga di radius enam kilometer, jumlahnya sekitar 20.000 jiwa, namun warga dari radius lebih dari enam kilometer juga turut mengungsi dan jumlahnya terus bertambah hingga kemarin malam.

Andi Hanindito, Direktur Bantuan Sosial Korban Bencana Alam Direktorat Banjamsos, Kemensos RI, mengatakan, karena situasi darurat, bantuan yang diprioritaskan adalah pangan dan sarana tempat penampungan sementara. Kemensos menyiapkan bantuan bahan makanan dan sarana untuk tempat penampungan sementara, seperti selimut, matras, kasur, dan lainnya.

Andi menjelaskan, sedikitnya 250 ton beras sudah didrop, antara lain dari Kemensos 50 ton, dari Gubernur Sumatera Utara 200 ton, dan dari Walikota/Bupati di Sumut sebanyak 100 ton.

 

Tunda Keberangkatan

Akibat letusan Gunung Sinabung itu, sejumlah maskapai penerbangan sejak kemarin terpaksa menunda keberangkatan dari dan menuju Bandara Polonia Medan. Penundaan penerbangan terutama diakibatkan sebaran asap vulkanik yang dikhawatirkan mengganggu kinerja mesin pesawat.
Bram Baroto Tjiptadi, Kepala Cabang (Kacab) Angkasa Pura II Bandara Polonia Medan mengatakan, maskapai yang menunda penerbangan di antaranya Susi Air dan Sriwijaya
Air yang melayani penerbangan dari Bandara Polonia Medan menuju dan dari Bandara FL Tobing, Tapanuli Tengah.
Tidak hanya itu, pesawat yang sedianya disiapkan menjemput Menko Kesra Agung Laksono
juga batal terbang akibat debu vulkanik masih menyebar di rute menuju Bandara FL Tobing. Sedianya Agung, kemarin, akan mengunjungi Kabupaten Tanah Karo guna melihat kondisi para pengungsi dan situasi terkini pascaletusan Gunung Sinabung itu.

Menurut Bram, penunda penerbangan menuju Tapanuli Tengah bukan akibat karena jarak pandang terlalu pendek, namun sebaran debu vulkanik di udara dikhawatirkan mengganggu kinerja mesin pesawat. Meski demikian, maskapai menerbangan besar yang melayani rute Medan-Jakarta, tidak mengalami kendala.

 

Salah Prediksi

Pemerintah mengakui, antisipasi terhadap letusan Gunung Sinabnung  di luar prediksi. Andi Arief, Staf Ahli Presiden Bidang Bencana Alam, kemarin, mengatakan, empat bulan timnya bekerja ke Sumbar, Sumut, Bengkulu, Lampung, dan Aceh menyosialisasi mitigasi gempa. “Tapi, Gunung Sinabung justru tak menjadi prioritas,” ujarnya.

Ia mengatakan, Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral pun mengaku kesalahan prediksi tersebut. Analisis terhadap aktivitas Gunung Sinabung meleset.

Sebelumnya, PVMBG menyatakan Gunung Sinabung tidak akan membahayakan masyarakat, karena sejak tahun 1600 tidak dilaporkan terjadi letusan. Selama ini Gunung Sinabung juga dikategorikan gunung api tipe B. Namun, begitu aktivitasnya terus meningkat sejak Jumat lalu dan memuntahkan larva pijar dan letusan dini hari kemarin, PVMBG langsung mengubah Gunung Sinabung menjadi tipe A. Statusnya juga ditingkatkan menjadi awas.

Sementara ini, letusan tersebut menyebabkan korban tewas satu orang karena kelelahan saat menyelematkan diri. Diperkirakan terdapat sebanyak 12.000 orang warga di sekitar lereng Gunung Sinabung.

Abu vulkanik letusan mempunyai efek riil terhadap kesehatan karena mengadung silica, bahan baku kaca. Jika abu mengenai mata, kemudian mata digosok, maka mata bak digosok dengan kaca. Demikian pula jika masuk ke pernafasan, silica akan masuk ke tenggorokan dan paru-paru.  

”Efek abu sangat riil. Apalagi bagi anak-anak,” tutur Agus Budianto, Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Agus mengatakan kondisi gunung tertutup kabut sehingga puncak tidak terlihat. Aktivitas kawah tidak terlihat, namun lereng terlihat jelas. Suhu udara di pos pengamatan sekitar 20 derajat Celcius. Para pengamat juga tidak merasakan gempa. ”Hanya getaran-getaran kecil yang terdeteksi seismograf," tutur Agus, sembari menjelaskan aktivitas gunung telah menurun dibandingkan dini hari kemarin. ant/d-com/v-nws

Copyright Harian Umum Tabengan © 2010