Istana Bantah Presiden SBY Suka Curhat
30-07-2010 07:16
Harian Umum Tabengan,  

JAKARTA

Dalam berbagai kesempatan, Presiden SBY sering mengeluarkan uneg-unegnya di hadapan publik. Terakhir, Presiden mengungkapkan bahwa ada gerakan yang mengkampanyekan pemerintahan buruk. Ungkapan SBY ini dibantah oleh Istana sebagai bentuk curhat.
"Presiden kan sangat konstruktif mengajak media untuk sama-sama membangun dengan melanjutkan yang sudah tercapai, dan meningkatkan terus perbaikan-perbaikan. Itu sisi positif, kalau ada yang mengatakan itu curhat, ya itu tidak benar," kata Jurubicara Presiden bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha, Kamis (29/7).
Terus kalau bukan curhat, berarti apa Pak? "Ya kita bersama-sama untuk membangun," jawab Julian. Julian mencontohkan,  selama ini banyak capaian yang diraih oleh pemerintah. Meskipun ada kekurangan di sana sini, dianggap sebagai hal yang wajar.
"Prestasi yang dicapai PLN kinerja listrik kita sudah kita rasakan progressnya. Itu yang sudah disampaikan oleh Presiden, bahwa kemungkinan masih sifatnya ada kekurangan di beberapa daerah, itu bisa ditolerir dan diterima," papar Julian.
Sehingga, Istana pun meminta agar media proporsional dalam memberitakan. Jika
ada capaian yang baik, harusnya juga diberitakan.
"Kalau ternyata ada kemajuan ya diberitakan dong. Jangan karena ada satu titik kelemahan terus itu yang difokuskan. Kenyataan bahwa banyak sekali pencapaian, keberhasilan, tapi malah tidak diberitakan," ujarnya.

Dalam pidato SBY menyebut, ada gerakan politik yang sedang berkampanye untuk mendiskreditkan pemerintah, dengan mengesankan seolah-olah Indonesia akan hancur.
"Ada yang sedang keliling kampanye seolah-olah Indonesia akan hancur. Di mata mereka, seolah-olah Indonesia ini buruk sekali," demikian ujar SBY dalam pidatonya semalam.
Ucapan SBY tersebut lantas oleh sebagian kalangan dianggap ditujukan kepada organisasi massa berorientasi politik tertentu, yang akhir-akhir ini sibuk mendirikan sejumlah cabang dan membangun basis di daerah-daerah, serta lantang melontarkan kritik pedas kepada pemerintah.
Namun, Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso menganggap pidato Presiden SBY kemarin malam sebagai hal yang wajar Menurutnya, bahasa yang digunakan SBY tidak mencerminkan kemarahan. Suara dan intonasi SBY saat menyampaikan pidato pun, kata Priyo, cukup datar.
"Sekedar menunjukkan, kerisauan beliau kalau sampai ada pemberitaan yang tidak berimbang," ujar Priyo. Dia berpendapat, Presiden hanya berniat memberi tahu kepada masyarakat agar tidak lupa memberitakan nilai-nilai positif yang juga ada di kehidupan sehari-hari. d-com
Copyright Harian Umum Tabengan © 2010