![]() |
|
|
||
|
||
|
||
|
Harian Umum Tabengan,
JAKARTA
Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), meloloskan Busyro Muqodas dan Bambang Widjojanto sebagai calon pimpinan lembaga tersebut yang akan mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di DPR RI. Kedua nama ini, lanjut Patrialis, dipilih setelah melalui seleksi ketat selama hampir tiga setengah bulan. Sebelumnya panitia seleksi harus menyaring 287 nama pendaftar hingga mengerucut menjadi dua nama yang diserahkan kepada preside "Keputusan pansel ditandatangani oleh seluruh anggota pansel 13 orang dan keputusan diambil secara aklamasi," tambah Patrialis. Patrialis juga menegaskan, terpilihnya kedua nama ini adalah murni keputusan pansel bukan titipan dari pihak manapun. Dan, presiden menghargai kedua nama yang diajukan tersebut Dari penilaian pansel, kedua nama ini dianggap sebagai yang terbaik dan memenuhi kriteria sebagai calon ketua KPK. Kami berkesimpulan kedua orang inilah yang memenuhi kriteria pansel, katanya. Lalu mengapa pansel mengeliminasi nama Jimly. "Pak Jimly orang bagus. Beliau sangat brilian. Hanya pansel menginginkan jika sudah melakukan wawancara final tidak boleh mundur. Baik sebagai calon maupun setelah menjabat. Pak Jimly dan Ibu Melly Darsa terkait alasan itu," kata Patrialis menjelaskan alasan tak terpilihnya Jimly Assidiqie. Patrialis menjelaskan, pada saat wawancara, Jimly mengatakan ingin melakukan perubahan luar biasa pada KPK yang tidak dapat dilakukan olehnya, apabila tidak menjabat Ketua KPK. "Jadi, cita-cita beliau sangat mulia, cuma Pansel tidak mau seperti itu," ujar Patrialis. Jimly, lanjutnya, pada saat seleksi selalu meraih angka tinggi pada setiap tahapan seleksi. Jimly Asshiddiqie, menerima keputusan pansel KPK yang memilih Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas. Kedua calon pimpinan KPK tersebut pun dinilai Jimly sudah tepat menduduki kursi pimpinan KPK. "Baguslah. Saya kira sudah tepat. Sudah pas mereka berdua. Kita harus hormati," kata Jimly. Jimly mengaku memang dirinya gagal seleksi wawancara, karena tidak bersedia menjabat sebagai Wakil Ketua KPK. Jimly hanya mau menjadi Ketua KPK.
Berani Mati Dari kedua calon yang sudah lolos seleksi, politisi Golkar itu mengatakan, kedua calon tersebut adalah yang terbaik. "Tapi kami akan memilih pimpinan KPK yang berani mati, berdedikasi, mampu mengatasi tekanan dari pihak manapun, termasuk istana," kata Bambang. Di antara kedua calon tersebut, Busyro Muqodas dan Bambang Widjojanto (BW), dia lebih memilih Bambang Widjojanto sebagai pimpinan KPK dibanding Busyro. "Kita akan pilih BW asal mau menandatangani fakta integritas seperti berani mati, siap menghadapi istana dan berkomitmen memberantas korupsi," kata Bambang.
Dikatakan, bila Busyro terpilih menjadi pimpinan KPK, dia yakin, pemberantasan korupsi tidak akan berjalan sebagaimana yang diharapkan masyarakat. "Busyro titipan pemerintah, tentu saja KPK tidak akan produktif," ujarnya. "PDI-P secara kelembagaan belum memutuskan siapa calon Ketua KPK, tetapi kriterianya calon KPK adalah orang yang berani menghadapi kekuasaan bahkan sampai ke puncak kekuasaan," kata Wakil Ketua Fraksi PDI-P Gayus Lumbuun. Menurut Gayus selama ini banyak orang pandai dan baik namun sulit mendapatkan orang yang berani. Karena itu tambahnya PDI-P mensyaratkan keberanian sebagai hal penting selain harus jujur dan cerdas. Busyro Muqodas menyandang gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, pada 1977, Busyro menjadi akademisi. Dia pernah menjadi anggota dewan kode Etik IKADIN Yogyakarta serta anggota Dewan Etik Indonesia Court Monitoring (ICM) Yogyakarta. Gelar Master dia peroleh di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada pada 1995. Sedangkan Bambang Widjojanto banyak beraktivitas dalam kegiatan lembaga swadaya masyarakat, meski juga tercatat sebagai advokat. Latar belakag pendidikannya beragam. Dia menyelesaikan studi di di Universitas Jayabaya pada tahun 1984 dan kemudian menempuh sejumlah pendidikan formal dan non formal terkait dengan hak azasi manusia di Amerika Serikat, Belanda dan Inggris. Sepak terjangnya dalam bidang HAM, membuatnya meraih penghargaan Kennedy Human Rights Award. Dia juga aktif dalam gerakan antikorupsi di Indonesia Corruption Watch dan Partnership of Governance Reform. Dia bahkan aktif dalam berbagai aktifitas Yayasan Tifa dan Kontras.
Akhir-akhir ini namanya melambung setelah tergabung dalam Tim Pembela Bibit dan Chandra. ant/v-nws/d-com
|
|
|
|
|
||