Waspada Flu Burung
28-01-2012 00:00
Harian Umum Tabengan,  


Jika Wag (41), pasien suspect flu burung asal Seruyan di RSUD dr Murjani, Sampit, benar-benar terinfeksi H5N1, Indonesia akan menjadi negara dengan kasus flu burung tertinggi di dunia selama 2012, bersama-sama dengan Mesir. Mesir sebelumnya melaporkan adanya 3 kasus flu burung. Sementara di Indonesia, dilaporkan 2 orang meninggal karena flu burung di Jakarta. Satu orang lain di Tangerang, Rohmat, dinyatakan meninggal karena radang paru, bukan flu burung.

Angka 2 kasus – di luar Wag di Sampit – adalah jumlah yang tinggi untuk kasus H5N1. Indonesia sudah melaporkan kasus yang menimpa paman dan keponakan, PDY (23) dan ADR (5), ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dan, angka tersebut layak membuat pemerintah dan masyarakat waspada. Virus H5N1, atau sering disebut sebagai Avian Influenza (AI) alias flu burung, sangat mengkhawatirkan karena mematikan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2010 ada 9 kasus flu burung di Indonesia. Jumlah tersebut meningkat pada 2011, dengan 11 kejadian. Sejak pertama kali penyakit ini berjangkit di Asia, 2005, terdapat 184 kasus dengan 152 kematian di Indonesia. Angka ini termasuk tinggi di dunia. Dan, Indonesia masih merupakan wilayah endemis flu burung.

Kementerian Pertanian mencatat, sepanjang 2011 kasus flu burung pada unggas mencapai 1.411 kejadian. Angka ini menurun jika dibandingkan pada 2010 yang mencapai 1.502 kasus flu burung pada unggas, dan juga pada 2009 yang mencapai 2.293 kasus. Angka 1.411 kali pada 2011 itu artinya ada 4 kasus perhari. Karena itu, meski kecenderungannya menurun, masyarakat tetap harus mewaspadainya. Saat ini, dari 33 provinsi baru Provinsi Maluku Utara yang berstatus bebas virus flu burung.

Pada periode 1-20 Januari 2012, dilaporkan terdapat kasus flu burung di 6 provinsi. Antara lain Jawa Tengah (Sragen, Brebes), Jawa Timur (Lamongan), Riau (Pekanbaru), Kalimantan Timur (Panajam Paser Utara), Jambi (Muaro Jambi), dan Sulawesi Selatan (Sidenreng Rappang/Sidrap). Jumlah ungga mati 1.073 ekor, terbesar di Kabupaten Sidrap sebanyak 723 ekor ayam ras petelur mati.

Catatan itu seharusnya menjadi peringatan bagi kita. Kementerian Kesehatan, di bawah Menteri Endang Rahayu Sedyaningsih, memang concern terhadap pengendalian penyakit flu burung ini. Anggaran banyak digelontorkan untuk penelitian laboratorium dan rumah sakit.

Tapi ada hal yang rupanya agak tertinggal, yakni pengendalian unggas ebagai sumber penularan H5N1. Sehingga, masyarakat cenderung meremehkan keberadaan unggas yang berpotensi sebagai pembawa virus H5N1 kepada manusia. Banyak masyarakat yang hidup dikelilingi unggas. Pernah ada riset yang menyebutkan, patogen flu burung ditemukan di 80 persen pasar unggas di Jakarta. Artinya, di ibu kota negara yang asumsinya pengawasan lebih ketat pun masih ditemukan potensi berjangkitnya flu burung lewat unggas yang dijual di pasar.

Tidak cukup hanya melakukan pengawasan lalu lintas unggas antardaerah. Pelatihan terhadap peternak unggas, dan pengawasan terhadap peternakan-peternakan harus rutin dilakukan. Termasuk pengetatan – kalau perlu pelarangan – izin usaha peternakan yang dekat dengan pemukiman. Yang tak kalah pentingnya adalah menjaga kebersihan pasar-pasar unggas.

Adanya kasus suspect flu burung di Seruyan sepatutnya membuat kita, pemerintah dan masyarakat, lebih waspada. Dan, itu tidak bisa berhenti ketika ada kasus saja. Kewaspadaan harus terus menerus sampai provinsi ini bebas flu burung seperti Maluku Utara.

Copyright Harian Umum Tabengan © 2010