![]() |
|
|
||
|
||
|
||
|
Harian Umum Tabengan,
Oleh CHRISTIAN P SIDENDEN)**
Hubungan Indonesia-Malaysia lagi panas-panasnya, menyusul penangkapan tiga orang pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia oleh aparat Polis Diraja Malaysia (PDM) di wilayah Kepulauan Bintan, Riau beberapa waktu lalu. Hubungan yang sudah dijalin sejak era Orde Baru itu kembali tiba pada titik nadir. Kebencian masyarakat Indonesia memuncak atas sikap ambivalensi pemerintah dan masyarakat Malaysia. Itu terlihat dari sejumlah perlakuan tak manusiawi kepada para tenaga kerja Indonesia (TKI), klaim Malaysia atas karya-karya seni-budaya Indonesia, dan beberapa aksi penyerobotan wilayah teritorial Indonesia. Penamaan Sarawak sebagai wilayah yang dikuasai Inggris itu, uniknya memiliki satu akar kata dengan nama Makassar, sebuah kota maritim di ujung Selatan Sulawesi. Prof Van der Meulen SJ menyebut istilah sara (sero, satu) dan waka (jukung, perahu) sebagai bahasa Austronesia yang berarti dari satu jukung/perahu. Demikian pula Makassar, yang merupakan kontraksi dari kata yang lebih purba Mawakasara atau dari puak/kaum seperahu. Dibuktikan bahwa inti penyebaran kaum ras Mongoloid-Austronesia tersebut berasal dari satu induk di Indochina (Cina Selatan). Persaingan dagang antara Inggris dan Belanda menentukan nasib terpisahnya orang Dayak di Utara dan di Selatan nantinya. Aktivitas Pemerintah Hindia Belanda di Pulau Borneo ini jauh lebih agresif daripada di masa maskapai dagang VOC yang lalu karena saat itu Belanda bersaing keras dengan Inggris merebut pengaruh di Pulau Borneo, apalagi setelah diangkatnya James Brooke (orang Inggris) menjadi Raja Putih di Sarawak tahun 1841. Untuk mengantisipasi ekspansi pengaruh dari James Brooke ke wilayahnya, maka Pemerintah Hindia Belanda kemudian mulai tahun 1846 M mengadakan perjalanan Tim Ekspedisi Pemerintah Hindia Belanda menyusuri seluruh tepi batas wilayahnya dengan wilayah yang dikuasai James Brooke. Tim Ekspedisi pertama dipimpin oleh Letnan Dua D van Kessel yang menjelajahi arah Barat dan kemudian dilanjutkan oleh Tim Ekspedisi yang dipimpin oleh Dr. CM Schwaner yang menjelajahi arah Timur. Nama Schwaner diabadikan sebagai nama pegunungan yang berada di tengah-tengah Kalimantan sekarang. Dulu, bangsa Eropa menamakan Kalimantan sebagai Borneo, karena menyebut tempat pendaratan pertama mereka di Kesultanan Brunei. Untuk mempersatukan wilayah Borneo, maka pada tahun 1894, atas prakarsa Damang Batu dari kampung Tumbang Anoi, Kalteng (di Kuala Kurun sekarang) dikumpulkan semua orang yang memiliki gelar temanggung, damang, dambung, dohong se Borneo. Hasil perjanjian itu guna menyelesaikan pertikaian yang terjadi di antara sesama orang Dayak dari seluruh daratan, yang mana selalu berujung dengan tindakan mengayau (memenggal kepala orang yang dikalahkan). Tidak pernah ada bukti bahwa di Kalimantan pra-Hindu dan Islam pernah berdiri negara bangsa, kecuali yang disebut negara suku (etnic state) Nan Sarunai milik sub etnik Maanyan. Negara ini hancur oleh serbuan Majapahit yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur, 1971). Tujuh suku besar Dayak di Kalimantan yaitu Banuaka (Kalbar), Ngaju dan Maanyan (Kalteng), Iban dan Bidayuh (Kalbar dan Sarawak), Kayan (Kaltim), dan Klemantan (Sabah). Khusus mengenai di Sabah sendiri, banyak penduduknya kini yang tak mengakui diri mereka Dayak lagi. Mereka lebih suka menyebut dalam konteks sub-etnik seperti Kadazan, Dusun atau Murut. Meskipun mereka bersama puak Melayu di Semenanjung Malaya mendirikan Negara Malaysia, orang-orang Kadazan-dusun-murut itu tak hendak disebut Melayu, dalam pengertian Malaya. Secara keseluruhan bagan besar etnik Dayak terbagi atas sub-sub etnik yang kurang lebih jumlahnya 405 bagian (JU Lontaan, 1975). Kemungkinan MT Hubert Perelaer menyebut Dayak dari asal dadayak yang berarti “berjalan sempoyongan”, suatu tipikal anatomi manusia penghuni Borneo yang memiliki kaki-kaki lunglai dan bengkok. Perelaer menyebutnya sebagai akibat kebiasaan duduk di atas jukung dalam waktu lama. Ia telah menulis buku novel petualangannya Borneo van Zuid naar Noord (Borneo dari Selatan ke Utara) tahun 1861. Pada tahun 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat daerah administrasi. Provinsi Kalimantan, tiga perempat bagiannya ada di Indonesia, yang terletak di Selatan Kalimantan. Di Utara adalah Kesultanan Brunei dan dua koloni Inggris, yaitu Sarawak dan Borneo Utara, yang kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Borneo dengan di Semenanjung Malaya, yaitu Federasi Malaya, dengan membentuk satu Federasi Malaysia. Presiden Soekarno segera melancarkan suatu Gerakan Konfrontasi di sepanjang garis perbatasan dengan Malaysia-Inggris (1962-1965). Tujuan Komando Dwikora, 3 Mei 1963, sebagai simbol pembebasan Kalimantan Utara adalah untuk membatalkan berdirinya Negara Boneka Sarawak-Sabah yang diakui Federasi Malaya sebagai bagian integral dari Federasi Malaysia hingga kini. Sebelum perang yang sesungguhnya meletus, Soekarno ternyata ditumbangkan oleh rezim Orde Baru di bawah Soeharto. Setelah itu Malaysia-Indonesia berdamai. Kebangkitan orang Dayak sebagai sebuah entitas nasionalisme, walau terjadi secara sporadis di dua negara membuktikan adanya kerinduan untuk bersatu. Dimulai dari berdirinya organisasi pemuda Pakat Dayak di Tumbang Kapuas (kini Kuala Kapuas) pada tahun 1919 oleh tokohnya Hausmann Baboe. Tahun 1926, Hausmann Baboe mendirikan koran yang bernama Soeara Borneo. Hal ini mencengangkan karena terjadi dua tahun mendahului Kongres Pemoeda di Jakarta tahun 1928. Bahkan Hausmann Baboe adalah tokoh lokal Dayak yang berprofesi awal sebagai seorang jurnalis dan dianggap sebagai Bapak Perintis Pers Kalteng. Di Barat, Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray (mantan Gubernur Kalbar 1960-1966) mencoba mengangkat nasib Dayak. JC Oevaang Oeray menjadi tokoh Partai Persatuan Dayak (PD) yang sebelumnya didahului dengan kelahiran Dayak In Action (DIA) atau Gerakan Kebangkitan Dayak (GKD). Organisasi ini dibentuk pada tanggal 30 Oktober 1945 di Kota Putussibau di bawah pimpinan FC Palaunsuka, salah seorang guru sekolah rakyat (SR). Di Utara, di Sabah masa kini nyaring terdengar kampanye One Borneo (Satu Borneo). Ini adalah keinginan orang-orang Kadazan-dusun-murut untuk mulai ‘memerdekakan diri’ secara lembut dari Federasi Malaysia. Joseph Pairin Kitingan, pendiri Partai Bersatu Sabah (PBS), berjuang melalui jalan parlemen, bukan dengan perang, mau mendirikan satu Negara Sabah terlepas dari Malaysia. Hal itu terbukti dengan lamanya dia menjadi Menteri Negara Bagian Sabah tahun 1985 hingga 1994. Kitingan menjadi duri dalam daging Malaysia selama pemerintahan PM Mahathir Mohammad. Terlepas dari konfrontasi apapun antara Indonesia dan Malaysia sepanjang masa, bagaimanapun dalam diri kedua negara itu ada suatu kaum serumpun yang ingin bersatu. Mereka terpisah beratus-ratus tahun oleh warisan kolonial yang berbeda, antara Inggris dan Belanda. Oleh karena keduanya sejak awal tidak bisa dikelompokkan sebagai puak Melayu (Islam), dengan sendirinya mereka bebas dari nuansa konfrontasi politik kedua negara. Bagaimanapun umur Dayak jauh melampaui Indonesia dan Malaysia. Hal inilah yang menjadi pelik, karena setiap waktu pelintas-pelintas batas antara kedua negara justru dilakukan oleh anak-cucu dari satu puak seperahu bernama Dayak tersebut.
**) Wartawan Tabengan
|
|
|
|
|
||