Renaisans Dayak dan Kalteng
30-08-2010 00:00
Harian Umum Tabengan,  

Renaisans, kelahiran, kebangkitan kembali atau pencerahan. Periode yang muncul setelah melampaui masa kegelapan. Periode yang saya analogikan dengan masa renaisans di Eropa. Adakah dan pernahkah Dayak dan Kalteng mengalami masa renaisans? Lalu periode mana dalam sejarah Dayak yang dianalogikan dengan masa kegelapan?

Masa kegelapan Dayak bagi saya tidak lain dari masa yang dimulai oleh Perdamaian Tumbang Anoi 1894 yang oleh sementara pihak disebut sebagai “fajar peradaban” (artinya sebelumnya manusia Dayak berada pada masa kebiadaban).

Periode kegelapan pertama ini dimulai pada 1894 dan berakhir dengan berdirinya Sarikat Dajak dilanjutkan oleh Pakat Dajak pada 1919. Mengapa Periode Tumbang Anoi 1894-1919 saya namakan periode kegelapan dalam sejarah Dayak?

Pertama, melalui Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894, kolonialisme Belanda dilegalkan. Belanda diakui sebagai penjajahTanah Dayak (titik pertama hasil Pertemuan Tumbang Anoi).

Kedua, sejak Pertemuan Damai Tumbang Anoi politik desivilisasi “ragi usang” diterapkan dengan sistematik oleh kolonialisme Belanda yang dampak negatifnya berlangsung sampai sekarang (tapi tidak kita sadari).

Ketiga,sejak Pertemuan Tumbang Anoi itu pula destruksi sistematik di bidang politik sosial, ekonomi masyarakat dilakukan. Kolektivitas dialihkan menjadi invidualisme melalui rumah-rumah individual sebagai lambang peradaban dan modernitas. Destruksi lebih sistematik dan bengis ini dilanjutkan oleh Orde Baru dengan menggolkarkan lembaga-lembaga adat Dayak.

Keempat, perdamaian Tumbang Anoi 1894 adalah bagian dari pelaksanaan politik devide et impera Belanda dalam memadamkan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda oleh Orang Dayak sebagai kekuatan induk dan Sultan-sultan Banjar yang terdesak dari wilayah Kesultanan Banjar.

 Melalui Pertemuan Tumbang Anou 1894, dengan “satu batu kolonialisme Belanda membunuh dua burung sekaligus”. Masalah kesepakatan penghentian kayau-mangayau antarsuku Dayak merupakan soal sekunder dan bagian dari politik devide et impera Belanda , bagian dari taktik Belanda memadamkan perlawanan terhadap pendudukannya. Jadi, pertama-tama bukan demi kepentingan Dayak.

Pertemuan Tumbang Anoi bisa terselenggara karena kurang pekanya perasaan dan pandangan politik para penyelenggaranya yang nota bene pemuka-pemuka Dajak sendiri. Menurut TT. Suan, tidak semua Damang menyetujui Pertemuan Tumbang Anoi.

Sejarah memang sering  merupakan kancah pertarungan politik kepentingan. Tapi justru oleh politisasi sejarah ini pula petaka terjadi yang meracuni orang untuk jangka panjang.  Penulisan sejarah Kalteng tidak luput dari racun ini.

Sarikat Dajak dan Pakat Dajak yang lahir tepat 25 tahun kemudian (25 tahun untuk dalam sejarah bukanlah waktu panjang)  mengkoreksi kesalahan-kesalahan Pertemuan Tumbang Anoi 1894. Sarikat Dajak dan Pakat Dajak berjuang dengan wacana jelas, cara mewujudkan wacananya pun gambling. Mempunyai program holistik yang jelas pula. Lingkup perjuangannya pun jauh lebih luas yaitu menyatukan diri  dengan gerakan kebangkitan nasional hingga ke tingkat internasional. Hal-hal ini sama sekali tidak dimiliki oleh penyelenggara (bukan penggagas!) Pertemuan Tumbang Anoi 1894.

Janin renaisans Dajak dimulai oleh Sarikat Dajak dan Pakat Dajak. Lebih lanjut diwujudkan oleh Tjilik Riwut dan angkatannya di Provinsi Kalimantan Tengah. Periode Renaisans Pertama Dayak, berakhir dengan didepak ke atasnya Tjilik Riwut oleh Orde Baru pada tahun 1967.

Sejak 1967-2004 Tanah Dayak Kalteng mengalami masa kegelapan kembali. Janin Renaisans Kedua dimulai ketika A.Teras Narang, SH selaku Gubernur memungut kembali Panji Besar Sarikat Dajak dan Pakat Dajak pada tahun 2005. Teras tampil menata ulang kerusakan-kerusakan yang terjadi selama 37 tahun dari 53 tahun usia Kalteng.

Penataan kembali dilakukan baru selama 5 tahun (efektif 3 tahun kerja). Menghancurkan lebih gampang daripada membangun. Pertanyaan bagi Teras-Diran, mampukah keduanya lebih lanjut melaksanakan mimpi Dayak dan Kalteng  berharkat bermartabat dalam 5 tahun mendatang ini? Mampukah keduanya mewujudkan Renaisans Dayak dan Kalteng Kedua ?

Renaisans Dayak merupakan dasar bagi Renaisans Kalteng. Jadi inti persoalan bagi Kalteng bukanlah wacana Palangka Raya ibukota RI atau tidak, tapi bagaimana mewujudkan Renaisans Dayak sebagai dasar Renaisans Kalteng. Persoalan Renaisans Dayak dan Kalteng menjadi kian mendesak dengan wacana Palangka Raya ibukota RI. Wacana ini bermakna positif dan negatif. Negatif jika Dayak tetap dan kian terpuruk.

Seandainya Palangka Raya menjadi ibukota RI beban terhadap Dayak yang tidak berdaya akan kian besar. Akan mempercepat keterpurukan mereka. Peluang bagus, karena wacana ini akan medorong Kalteng untuk berpacu waktu memberdayakan Dayak agar Dayak Kalteng bisa menjadi Dayak bermutu, Dayak kekinian, Dayak Modern. Artinya Dayak yang berketerampilan tinggi, ekonomi kuat, mempunyai identitas budaya yang tangguh, mempunyai wacana holistik dan keberpihakan merakyat yang kokoh, etos kerja yang ulet.

Manusia Dayak bermutu ini oleh tetua dahulu dirumuskan sebagai “mamut-menteng, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal”.  Untuk mencapai Dayak Bermutu, Kekinian, Modern  yang menjadi pertanyaan: Apakah Teras-Diran dan kabinetnya berani memilih dan menerapkan politik Moh.Mahatir “diskriminasi positif” untuk mengangkat etnik Melayu di Malaysia, menjadikan Dayak sebagai poros?

Etnik-etnik lain pada masa sekarang, saya kira bisa memahami pilihan politik demikian karena mereka semua tahu akan terpuruknya komunitas Dayak. Adanya pemahaman ini tidak akan menimbulkan keresahan sosial karena menjadikan poros tidak berarti pengabaian terhadap yang lain. Ia sesuai dengan wacana pemecahan kontradiksi pokok dalam masyarakat.

Segi pokok dari kontradiksi pokok masyarakat Kalteng sekarang adalah keterpurukan masyarakat Dayak. Justru mengabaikan unsur utama dari kontradiksi pokok ini akan menyulut keresahan sosial seperti ditunjukkan oleh kenyataan sekarang.

Untuk mewujudkan renaisans Dayak dan Kalteng, sahipang pemberdayaan yaitu politik-ideologi-kebudayaan, ekonomi dan pendidikan merupakan faktor kunci. Di bidang ini diniscayakan ada suatu wacana jelas berpihak. Yang rusak patut segera ditata ulang, direform drastis, terutama di bidang politik, ekonomi dan pendidikan.

Patut dicatat benar bahwa banyaknya orang bergelar sarjana di provinsi ini tidak menunjukkan kualitas yang setara gelar.  Untuk keperluan ini kita perlu “merebut waktu pagi-senja, karena seribu tahun terlalu lama”. Kecuali itu, yang mendesak diperlukan untuk mencapai renaisans Dayak dan Kalteng adalah organisator sadar, berpihak merakyat dan mau bekerja keras.

Organisator-organisator ini niscayanya sanggup bekerja di akar rumput untuk waktu yang lama, bukan datang sebagai penunggang kuda melihat bunga.  Organisator begini di segala bidang merupakan kekurangan besar di Kalteng sekarang.

Kalteng punya cukup pengalaman di bidang-bidang ini. Tinggal kita menyimpulkannya secara berani dan jujur. Untuk memperkuat Masyarakat Adat, meningkatkan kualitas Damang, kiranya perlu dibangun Institut Kadamangan, di mana para Damang belajar hukum adat dan hukum nasional, sejarah Kalteng dan Indonesia. Tentu saja rincian untuk tiap bidang kunci sangat perlu dibicarakan dengan cermat agar bisa mencapai hasil nyata.

Periode lima tahun Teras-Diran sekarang adalah periode desisif bagi terwujud tidaknya Renaisans Dayak dan Kalteng. Terwujudnya Renaisans Dayak dan Kalteng jauh lebih berarti dan urgen bagi Kalteng daripada wacana Palangka Raya ibukota RI.

Rencana Gubernur untuk membuka  Ruang Publik 1-2 sebulan di Istana Isen Mulang merupakan rencana sangat positif. Melalui Ruang Publik ini Gubernur dan Wakil Gubernur selain bisa menampung pengaduan langsung masyarakat berbagai lapisan, terutama lapisan bawah, ia juga berperan sebagai pengawasan terhadap kerja kabinet serta meminimkan laporan asal bapak senang yang menipu.

Masalahnya: bagaimana Ruang Publik ini diorganisasi agar mencapai hasil efektif. Ruang Publik ini pun tentu bertujuan mewujudkan Renaisans Dayak dan Kalteng juga. Masalah yang dihadapi Uluh Itah sekarang adalah to be or not to be (tetap ada atau lenyap) jika menggunakan istilah Shakespeare dalam karyanya “Hamlet”.

Apa artinya Palangka Raya ibukota RI jika Dayak tersingkir dari kampung lahirnya? Saya sedang melihat kelebat harimau lapar mundar-mandir di halaman.

**) Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).   

Copyright Harian Umum Tabengan © 2010