![]() |
|
|
||
|
||
|
||
|
Harian Umum Tabengan,
Oleh Adi Lazuardi) **
Hubungan Indonesia-Malaysia telah berjalan 53 tahun, terhitung sejak kemerdekaan jiran itu, 31 Agustus 1957. Peringatan hari kemerdekaan Malaysia, Selasa, 31 Agustus 2010 adalah juga peringatan hubungan kedua negara bertetangga dan serumpun ini. “Hampir 80 persen etnis Melayu Malaysia adalah keturunan Indonesia. Etnis Melayu Malaysia banyak keturunan Aceh, Padang, Riau, Jawa, dan Bugis,” kata Sanusi Juned, mantan rektor Universitas Islam Internasional Malaysia (UIIM) dan Menteri Pertanian Malaysia. “Jadi tepat jika Malaysia dikatakan satu rumpun dengan Indonesia,” kata cucu pejuang Aceh Muhammad Daud Beureueh, yang lahir di Kedah, salah satu negara bagian Utara Malaysia ini. Ia mengatakan hal itu dalam suatu seminar di UIIM. Sejarah migrasi orang Indonesia ke Malaysia sudah berlangsung ratusan tahun lalu. Hubungan sosial kedua negara ini dimulai abad ke-14. Menurut tulisan Prapanca berjudul "Nagarakartagama" pada tahun 1365, pemerintahan Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit memiliki kekuasaan wilayahnya hingga ke Semenanjung Malaysia, di antaranya Terengganu, Kelantan, Klang, Sungai Ujong, dan Kedah. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, berdiri kerajaan Malaka di Semenanjung Malaysia yang kekuasaan wilayahnya hingga ke Indonesia, Aceh, Bintan, Inderagiri, Rokan, Kampar, dan Siak. Guru Besar sejarah Universitas Malaya Abdullah Zakaria mengatakan, Kerajaan Malaka didirikan oleh Raja Iskandar yang merupakan keturunan dari kerajaan Palembang. Kerajaan Malaka kemudian ditaklukkan oleh Portugis pada 1511. Dalam menghadapi penjajahan dari negara-negara Eropa, rakyat di Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Jawa sering bersatu. Berperang bersama melawan penjajahan negara Eropa seperti Portugis, Inggris dan Belanda. Beberapa raja di Semenanjung Malaysia melarikan diri dan membangun perlawanan dari wilayah Indonesia. Bahkan ada yang meninggal di Sumatera. Dalam perkembangan selanjutnya, interaksi dan perdagangan antara Sumatera dan Jawa dengan Semenanjung Malaysia terus berkembang. Migrasi penduduk Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, terutama Bugis ke semenanjung Malaysia, Sabah, dan Serawak sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Tak heran, banyak kawasan keturunan WNI di Malaysia. Dapat ditelusuri berbagai keturunan Indonesia yang tinggal di Semenanjung Malaysia, seperti keturunan Jawa berdiam di Pantai Barat Johor, Selangor, dan Perak. Keturunan Bugis tersebar di Pantai Timur Johor, Pahang, dan Trengganu. Keturunan Aceh berdiam di sekitar Pulang Pinang, Kedah, dan Perak. Keturunan Batak Mandailing tersebar di Selangor dan Perak, sedangkan keturunan Kerinci berdiam di sekitar Pahang dan Selangor. Keturunan Minangkabau tersebar di Negeri Sembilan, Melaka, dan Selangor serta keturunan Banjar tersebar di Perak dan Pahang.
Walaupun bertetangga dan serumpun, hubungan Indonesia-Malaysia sering tak rukun, kecuali di zaman Presiden Soeharto. Konflik Indonesia-Malaysia bermula dari zaman Presiden Soekarno yang memerangi Malaysia karena dinilai sebagai "Boneka Inggris". "Ganyang Malaysia" menjadi gaung dan teriakan populer pada era 1963-1966. Kejatuhan rezim Soekarno merupakan akhir dari konfrontasi Indonesia-Malaysia. Naiknya Presiden Soeharto merupakan masa emas hubungan kedua negara serumpun ini. Indonesia dapat menganyomi kawasan ASEAN sebagai regional yang aman dan mengalami pembangunan ekonomi yang pesat. Kejatuhan rezim Soeharto yang diiringi reformasi politik dan demokratisasi memberikan dampak pada hubungan kedua negara. Hubungan kedua negara yang harmonis semasa presiden Soeharto kini sering mengalami "gonjang-ganjing", bahkan di Indonesia rasanya sudah mau perang saja setelah reformasi tahun 1998. Berbagai isu seperti kasus perbatasan, buruh migran, kebudayaan dan pencurian kayu dan ikan sering menjadi latar belakang konflik Indonesia-Malaysia. Beberapa tahun belakangan ini, hubungan Indonesia-Malaysia memanas mengenai isu perbatasan, kepulauan Sipadan-Ligitan, kawasan laut Ambalat, dan deportasi besar-besaran TKI tahun 2004. Gesekan dan manuver prajurit di lapangan yang menjaga perbatasan laut Ambalat sering muncul dan memicu ketegangan hubungan kedua negara ini. Modernisasi peralatan tempur Malaysia, baik untuk angkatan laut dan udara, telah menaikkan tensi dan kecurigaan aparat penjaga perbatasan di laut, yang batas-batasnya masih terjadi perselisihan.
Namun upaya meredam ketegangan terus dilakukan. Kedua panglima tentara Indonesia sering bertemu, latihan menembak dan main golf bersama untuk meningkatkan persahabatan. Persahabatan tentara kedua negara dilakukan sampai ke perwira menengah dan prajurit dengan diadakan latihan perang bersama. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono enggan menghadiri HUT Kemerdekaan Malaysia ke-50 akibat kasus ini, dan hanya mengirim Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Malaysia langsung menempatkan posisi JK yang sangat terhormat dalam panggung peringatan kemerdekaan Malaysia ke-50 sebagai ungkapan bahwa Indonesia adalah negara yang paling penting bagi Malaysia. Hubungan Indonesia-Malaysia kembali gonjang-ganjing, memanas, bahkan rasanya di Indonesia, rakyat sudah seperti mau perang akibat berbagai isu misalkan pendobrakan pintu rumah ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di UKM (Kniversitas Kebangsaan Malaysia) oleh Rela (kaki tangan imigrasi Malaysia), kasus tarian Reog, Manohara, tari Pendet, pembunuhan tiga TKI asal Madura yang dibunuh polisi Selangor kemudian dibuat cerita seolah-olah mereka perampok, dan terakhir adalah insiden di perairan Bintan.
Insiden di perairan Bintan telah menimbulkan demontrasi di kedutaan Malaysia di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Akibat kebencian mendalam, beberapa aksi di depan Kedubes Malaysia diwarnai pembakaran dan injak-injak bendera Malaysia, bahkan melempar kotoran manusia ke halaman kedutaannya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan keharmonisan kedua negara tetangga dan serumpun kembali ke jalurnya. PM Malaysia Abdullah Badawi dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggagas pertemuan konsultasi tahunan untuk membicarakan berbagai hal secara terbuka sejak tahun 2004 hingga kini masih terus berjalan baik.
Pembentukan eminent person group (EPG) yang terdiri dari para tokoh masyarakat kedua negara untuk merumuskan dan memberikan masukan kepada kedua kepala pemerintahan. EPG Indonesia-Malaysia telah memberikan formulasi terbaik bagaimana kedua negara serumpun ini tetap harmonis. Insiden perairan Bintan telah mendorong kedua menteri luar negeri untuk mengadakan pertemuan di Kota Kinabalu, Sabah, 6 September 2010 agar pemicu ketegangan diplomatik kedua negara tetangga dan serumpun ini bisa ditekan. Penyelesaian perbatasan kedua negara yang sering memicu dan mengganggu hubungan kedua negara untuk dipercepat penyelesaiannya. Tapi, Ketua Permai (Persatuan Masyarakat Indonesia) di Malaysia Machrodji Maghfur mengingatkan agar pertemuan kedua Menlu di Kota Kinabalu nanti juga membahas perlindungan WNI/TKI di Malaysia. ”Ingat kasus pemukulan wasit karateka Donald Kolopita, pendobrakan rumah ketua PPI UKM, pembunuhan tiga TKI asal Madura telah menambah bara kemarahan rakyat Indonesia. Kasus insiden perairan Bintan juga dampak dari arogansi aparat kepolisian Malaysia,” kata Maghfur yang sudah tinggal di Malaysia sejak dekade 1980-an. ”Hampir tiap hari TKI atau WNI diperiksa identitasnya oleh polisi Malaysia, dan sering ujung-ujungnya adalah pemerasan uang. Main tembak mati semua WNI yang diduga perampok, padahal belum tentu mereka penjahat. Perampokan aset TKI oleh anggota Rela harus menjadi agenda pembicaraan antarkedua Menlu,” katanya. Indonesia, katanya, harus menjadikan agenda perlindungan WNI/TKI di Malaysia. Indonesia juga harus mendesak Malaysia agar aparat kepolisian dan imigrasi Malaysia mereformasi persepsi dan pelayanan terhadap WNI/TKI jika ingin hubungan harmonis kedua negara tetangga dan serumpun langgeng.
** (Antara
|
|
|
|
|
||