Harian Umum Tabengan,
Oleh EDY KOKO)**
Orang Indonesia memang pandai mengibaratkan sesuatu. Ibarat bulus buat politisi yang lobi sana lobi sini untuk kepentingan diri sendiri. Ibarat belut buat yang pandai melakukan manipulasi, tapi lolos terus dari jerat hukum.
Bahkan bisa bertahun-tahun ngatur organisasi sepakbola. Ibarat nyamuk buat wartawan yang tidak henti-hentinya mengejar informasi dugaan korupsi di organisasi kepolisian. Atau ibarat cabai rawit buat orang kecil, tapi berani seperti Munir, walau akhirnya dibunuh! Bicara soal cabai, apakah itu rawit atau keriting, tampaknya itu diciptakan Tuhan sebagai senjata.
Buat manusia yang pongah, bandel, suka bikin onar, kalau Tuhan sudah jengkel, maka diselipkan satu butir biji cabai ke usus buntu. Bisa ampun-ampunan itu manusia sampai datang dokter membedah perutnya untuk memotong dia punya usus buntu.
Namun, bukan berarti yang pernah kena usus buntu dihukum Tuhan. Yang sudah rajin sembahyang, berdoa, sedekah, tidak bikin masalah kepada sesama, tapi tetap kena usus buntu, itu bukan dihukum.Cuma sedang apes!
Dalam keseharian buah cabai punya peran luar biasa untuk orang Indonesia. Itu sebabnya pekan ini dan diyakini sampai Lebaran, yang namanya cabai menjadi isu nasional. Pembahasan cabai bukan hanya milik ibu rumah tangga dan pedagang di pasar tradisional, tetapi sudah mulai menyusup ke sidang kabinet. Cabai sudah mulai masuk ranah politik.
Anggota Dewan, pengamat sampai menteri sudah ikut bicara soal cabai. Jangan salah, buah cabai menjadi ramai dibicarakan oleh sebab buah kecil yang bisa bikin megap-megap orang itu sangat terkait dengan kehidupan masyarakat Indonesia .
Yang mengonsumsi cabai tidak pandang kasta, dari yang rakyat jelata sampai presiden butuh cabai. Jadi kalau ada menteri yang berujar, karena cabai sedang mahal disarankan tidak usah makan cabai dulu, itu menteri tidak paham budaya bangsa.
Tidak paham bahwa cabai penolong rakyat miskin. Simak, ke kampung-kampung atau rakyat jelata yang miskin. Harapan mereka, sembako boleh naik, yang penting buat mereka bisa makan pakai sambal, cukuplah sudah.
Yang namanya sambal tanpa cabai, bukan sambal. Dari keluguan rakyat tersebut menunjukkan, betapa cabai menjadi urusan utama. Kalau ada larangan makan cabai bisa diartikan memasung kebahagiaan orang miskin.
Kalau spageti itu makanan ala Italia, roti keju ala Eropa, tapi makan nasi sama sambal bukan berarti ala Indonesia . Itu makanan ala kadarnya. Yang namanya ala kadarnya berarti sudah paling sederhana. Kalau sudah ala kadarnya saja dilarang, bolehlah orang HAM turun tangan.
Itu sebabnya pengamat ekonomi Hendri Saparini, lewat acara Polemik Radio Trijaya, tidak setuju kalau Bank Dunia minta Pemerintah Indonesia mencoret buah cabai dari daftar penyebab inflasi di Indonesia. Ini satu lagi bukti cabai Indonesia bukan hanya urusan kabinet Indonesia , tapi sudah melompat jauh ke Washington .
Yang dimaksud Saparini ini adalah beberapa tahun lalu, Bank Dunia minta cabai dicoret dari indikator inflasi karena cabai dianggap tidak memengaruhi inflasi. Tapi hal itu ditolak.Yang menolak tersebut, bisa diduga, pernah hidup susah.Pengalaman kuliah, makan di warteg, berpesan kepada pelayan mohon dikasih sambalnya yang banyak. Maka, cabai tetap memengaruhi inflasi seperti beras dan sebagainya.
Menurut Hendri Saparini yang kalau ngomong cukup pedas kayak cabai, pemerintah tidak paham peran cabai terhadap kehidupan rakyat Indonesia . Harusnya, masih kata Hendri, pemerintah mengantisipasi kebutuhan cabai dan sembako lainnya sehingga persoalan yang sama tidak selalu muncul setiap masa. Ujung-ujungnya, keberadaan spekulan dijadikan sasaran sebagai penyebab kekacauan harga sembako.
Beda dengan Hendri Saparini yang gusar,Kementerian Pertanian kita tetap tenang. Pendeknya, pandangan mereka, kondisi tetap aman, sembako dan cabai cukup. Mereka punya data, ketersediaan cabai nasional pada Agustus nanti sebanyak 108.268 ton, sedangkan yang dibutuhkan untuk sambal, menyayur, dan lain-lain, termasuk dijadikan teman makan tahu sumedang, total 117.599 ton. Harganya, diperkirakan, akan turun. Apakah perkiraan tersebut tepat? Kita tunggu saja.
Agustus nanti Lebaran Idul Fitri,berarti banyak rakyat Indonesia bikin rendang, gulai, dan sebagainya yang serba butuh cabai. Bukan hanya kali ini cabai bikin ulah.Tahun-tahun sebelumnya, cabai juga sering berulah seperti kucing garong, naik turun tidak keruan. Susah ditebak.
Pernah terjadi seorang teman dari perusahaan rekaman di Jakarta tergiur harga cabai di tahun 1998. Dia pun mendadak jadi petani cabai. Dia jual mobil sedannya untuk modal bertani cabai di Karawang, Jawa Barat. Saat tanam, harga cabai mencapai Rp40.000/kg. Namun, begitu cabai dipanen, harganya terjun bebas, Rp2.500/kg.
Itu teman kapok beneran, bukan kapok lombok (cabai) seperti kata orang Surabaya . Maksudnya sudah ngaku kapok, besok mengulangi lagi. Frustrasi memang benar dialami para petani cabe.
Adang, seorang petani cabe dari Cianjur, menunjukkan daun pohon cabenya menjadi kuning semua. Sudah disemprot obat tetap tidak mempan. Ditambah hujan turun setiap saat membuat bunga cabai selalu rontok, gagal menjadi buah. Praktis, rugi besar. Maka, pemerintah punya bahan sebagai alasan harga cabai melambung akibat hujan.
Cukup menarik menyimak saran Dirut Bulog Sutarto Alimoeso yang sebelumnya menjadi Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian agar setiap keluarga menanam cabe di rumah masing-masing menggunakan pot-pot bunga.
Logikanya memang, saran itu layak didengar para ibu rumah tangga. Jika setiap rumah punya pohon cabai, kebutuhan sudah terpenuhi secara mandiri. Ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap cabai dari petani. Cabai menjadi primadona ternyata bukan karena sekadar mengandung capsaicin, pencipta efek pedas.
Buah ini, kabarnya, punya banyak khasiat. Dari mengurangi sakit kepala, hidung tersumbat sampai melancarkan aliran darah. Mungkin, karena itu, jika kita sedang flu makan pedas,hidung bisa meler. Tapi kalau kebanyakan makan cabai, tetep saja, mules!
**) Praktisi Media/d-com