![]() |
|
|
||
|
||
|
||
Harian Umum Tabengan,
Lebaran tinggal 10 hari lagi. Arus mudik penumpang pun mulai terlihat, termasuk di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Lantas, bagaimana sistem kerja porter angkut barang di bandara selama bulan puasa dan menjelang Lebaran tiba? Mengenakan seragam biru hitam kombinasi warna merah lengan pendek, sejumlah pria dewasa tampak berdiri-diri di bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Persis di terminal pintu masuk kedatangan penumpang, mereka bergerombol sambil menatap tajam tiap mobil yang datang. Manakala ada yang datang, parkir, lalu membuka pintu mobil, mereka yang tak lain para porter bandara itu langsung ‘menyerbu’. Siapa cepat, belum tentu dapat. Seorang porter di sini harus punya keahlian lebih, bukan sekadar mengangkat barang, tapi yang penting pandai komunikasi dengan ‘calon majikan’. Mereka harus bisa meyakinkan kalau ingin dapat rezeki. Menurut Yulius Kismono, Pengurus Persatuan Porter yang juga teknisi Bandara Tjilik Riwut, besar kecilnya penghasilan yang didapat porter tergantung dari nasib porter itu sendiri. Saat pesawat datang masing-masing harus pandai menawarkan jasa kepada penumpang. Namun, untuk keberangkatan pesawat dari Palangka Raya menuju ke luar, diatur sesuai nomor antre. Jadi untuk hal ini pendapatan semua porter merata, karena dibagi sama kepada setiap anggota, dan saat menjalankan tugas porter harus memakai baju khusus dilengkapi tanda pengenal ID Card. Yulius menuturkan, besaran rata-rata sehari penghasilan porter tidak menentu. Pada hari-hari biasa, berkisar Rp30 ribu sampai Rp50 ribu, sementara pada hari libur, terutama menjelang Hari Idul Fitri, bisa meningkatkan dua sampai tiga kali lipat. Sesuai sistem yang sudah diatur, porter Bandara Tjilik Riwut dalam sehari harus menyetor uang sebesar Rp3.000 untuk Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Bandara. Hasil selebihnya, baru untuk porter itu sendiri. “Dana tersebut digunakan untuk keperluan administasi di Koperasi Bandara dalam pembuatan pass bandara dan sebagainya,” kata Yulius, kepada Tabengan, di rumahnya, Senin (30/8). Sebelum menjadi anggota porter, jelas Yulius, terlebih dahulu harus mengisi formulir persyaratan, punya identitas lengkap KTP, surat permohonan, di samping membuat surat pernyataan atau surat kesanggupan untuk tidak melanggar hukum. Porter yang ada di Bandara Tjilik Riwut saat ini berjumlah 33 orang dan semuanya beragama Islam. Bagi anggota porter yang menjalankan ibadah puasa Ramadan, tidak mengalami hambatan terlalu berat. Karena, alat yang digunakan untuk membawa barang menggunakan trolley (kereta dorong). “Jadi, pekerjaannya agak ringan dan suasana tetap mendukung untuk menjalankan ibadah puasa. Lagi pula, tergantung masing-masing individu, apakah sanggup menjalankannya,” kata Yulius seraya menambahkan, awal berdiri porter pada tahun 1980. Saat itu, jumlah porter masih sedikit, karena jumlah jam penerbangan pesawat yang ada di Kalteng juga sedikit. Sementara itu, Sulaiman, yang sudah bekerja selama 20 tahun sebagai porter di Bandara Tjilik Riwut menuturkan, menjadi porter sudah merupakan profesi sehari-hari yang sudah dilakoni sejak tahun 1990. “Untuk mengetahui tingkat lama bekerja di porter Bandara Tjilik Riwut, terlihat dari nomor urut porternya. Misalnya, punya saya nomor tiga, berarti orang ketiga terlama bekerja,” ujarnya. Adapun pekerja pertama porter di Bandara Tjilik Riwut, atas nama A. Wahab. Namun, saat ini sudah berhenti beraktivitas, sedangkan posisi kedua, H Hasibuan. Menurut Sulaiman, dari segi penghasilan menjadi porter cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dan rata-rata anggota tidak memiliki usaha lain selain sebagai porter, walaupun penghasilan tidak menentu tergantung nasib baik. Terkait bulan puasa Ramadan, Sulaiman menegaskan, semua anggota porter menjalankan ibadah puasa karena aktivitasnya memang tidak berat. Soal ingin batal puasa atau tidak, tergantung pribadi masing-masing. ded
|
|
|
|
|
||