![]() |
|
|
|||||||
|
|||||||
|
|||||||
|
Harian Umum Tabengan,
Harga telur dan daging ayam, baik jenis boiler dan negeri, semakin tak terkendali di pasaran. Bahkan mendekati bulan Ramadhan pada 11 Agustus mendatang, stok semakin terbatas karena pasokan sering mengalami kekurangan. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga. Kepala Seksi Distribusi dan Monitoring Harga Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalteng Ilham Fauzi mengungkapkan, pasokan sembako baik berupa bumbu dapur, gula, beras, minyak goreng, sayur mayur hingga ikan dipastikan tetap lancar. Hanya saja, khusus untuk daging ayam dan telur, dikhawatirkan pasokan dari luar pulau kurang lancar lantaran terjadi pengurangan dari sentra produksi. Guna memenuhi kebutuhan daging ayam boiler dan negeri, seluruh masyarakat Kalteng hingga kini masih tergantung pasokan luar daerah, yakni Kalsel. “Sejak beberapa minggu terakhir, ada keterbatasan pasokan ayam dan telur untuk wilayah Kalteng. Hal ini tentu menjadi kekhawatirkan kami terutama mendekati bulan Ramadhan,” ungkap Ilham saat ditemui di sela-sela menghadiri rapat di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur, Kamis (29/7). Ilham menuturkan, kisaran harga daging ayam jenis boiler naik sebesar Rp3.000 dari harga Rp24.000-25.000/kg menjadi Rp27.000-28.000/kg. Sedangkan daging ayam kampung naik sekitar Rp4.000 dari harga Rp45.000-Rp46.000/kg menjadi Rp49.000-Rp50.000 ribu/kg. Berdasarkan informasi dari distributor besar daging ayam di Kalsel, pasokan memang berkurang dari tempat produksi. Beralasan harga pakan dan bibit yang melonjak, peternak Kalsel membatasi jumlah ternak ayamnya. Dalam sehari, masyarakat Kalteng membutuhkan pasokan daging ayam rata-rata 50 ribu ekor. Dari jumlah itu, hanya sekitar 30 persen yang diproduksi peternak ayam lokal Kalteng, sedangkan sisanya tergantung dari Kalsel. “Keterbatasan stok ini diperkirakan ada kaitan dengan penurunan jumlah produksi ayam Kalsel. Bahkan di daerah Kandan, salah satu sentra produksi ayam Kalsel, saat ini tengah mengalami kekosongan stok,” tambah Ilham. Guna mengantisipasi terjadi gejolak di masyarakat, Disperindag dalam waktu dekat akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait, seperti Dinas Pertanian dan Peternakan, Bulog, serta Dinas Pertambangan dan Energi. Untuk diketahui, harga telur dan daging ayam jenis boiler dan negeri ini juga mengalami peningkatan hingga 15 persen di daerah pemasok, yakni Kalsel. Kepala Dinas Peternakan Kalsel Maskamian Anjam baru-baru ini mengatakan, masyarakat Kalsel mengalami peningkatan permintaan telur dan daging ayam dalam jumlah yang sangat drastis, yakni mencapai 100 ton/hari untuk kebutuhan telur dan mencapai 70.000 ekor untuk kebutuhan ayam. Menurutnya, bila ternyata kebutuhan ayam Kalsel tinggi, pemasaran ke Kalteng akan distop karena pedagang akan mengutamakan kebutuhan pasar lokal terlebih dahulu. Begitu juga dengan telur, bila permintaan di Kalsel naik tajam, pedagang akan langsung mendatangkan dari Jawa.ris/ant |
|
||||||
|
|
|||||||