![]() |
|
|
||
|
||
|
||
Harian Umum Tabengan,
Kendati banjir yang merendam sejumlah desa di Kabupaten Kotawaringin Timur mulai surut, penderitaan belum berakhir. Ribuan warga korban banjir kini dihadapkan masalah baru. Mereka tak punya uang dan harus hidup bergantung utang. Sebagian besar penduduk Kecamatan Cempaga petani karet. Praktis, semenjak banjir besar melanda kecamatan pemekaran itu sepekan ini, hampir semua tak ada yang bisa bekerja karena kebun karet mereka turut terendam banjir. Sebagai petani karet, penghasilan sepenuhnya tergantung hasil sadapan karet. Seberapa banyak karet yang berhasil disadap, segitulah besarnya jumlah pemasukan mereka. Kini, di saat banjir sudah mulai surut, penderitaan bukannya berlalu, melainkan muncul persoalan baru gara-gara tak lagi punya simpanan uang. “Warga kami hidup dari hasil utang, untung saja masih ada pedagang yang mau memberikan utangan, meskipun masih belum tahu kapan mereka bisa membayarnya,” ungkap Kasmi Rasing, Kepala Desa Sudan, Kecamatan Cempaga Hulu, Kamis (29/7). Seperti diketahui, dari seluruh desa di Kecamatan Cempaga dan Cempaga Hulu yang terkena musibah banjir, Desa Sudan merupakan desa yang paling parah kondisinya. Hampir 90 persen wilayahnya terendam dengan ketinggian air mencapai dua meter. Menyedihkannya lagi, di saat desa tetangga dan desa lainnya banjir sudah berlalu, sampai sekarang desa mereka masih saja terendam meski tidak sedalam seperti pekan lalu. Kasmi mengakui, air sekarang mulai surut, namun tidak seperti desa lain, hingga kini warga setempat masih beraktivitas menggunakan sampan atau kelotok karena tergenang banjir ketinggian masih sekitar satu meter. Untuk keperluan hidup selama banjir, ungkap Kasmi, selain mengandalkan utang, seluruh warga juga bergantung pada bantuan yang telah disalurkan oleh pemerintah daerah. Bantuan dari Pemda memang terbagi merata seluruh warga, namun jumlahnya sangat terbatas dan hanya bisa memenuhi kebutuhan warga beberapa hari. Selain bantuan Pemda, sebenarnya juga ada bantuan dari pihak perkebunan sawit PT Windu Nabatindu, tapi bantuan yang diberikan sangat jauh dari cukup. “Masa mereka hanya membantu kami 80 kilogram beras, sedangkan jumlah penduduk di sini seribu orang lebih. Bagaimana kami membaginya ke warga?” ucap Kasmi setengah bertanya. Kasmi juga menegaskan, semestinya pihak perkebunan sawit merasa prihatin dengan kondisi warga Desa Sudan, sebab musibah banjir yang terjadi di sini salah satunya disebabkan oleh pembukaan lahan sawit mereka. “Apalah artinya 80kg beras bila dibandingkan dengan penderitaan warga desa kami seperti sekarang,” katanya lagi, penuh sesal. Selain kecewa dengan pihak perkebunan sawit, Kasmi dan seluruh warga desanya mengaku sangat kesal dan kecewa dengan sikap anggota DPRD Kotim, khususnya yang berasal dari Daerah Pemilihan Kotim 4. Sejak banjir pertama kali terjadi hingga sekarang, tidak ada satu pun dari mereka yang datang sekadar menengok kondisi warga yang merupakan konstituen mereka. “Semua anggota dewan dapil 4 sepertinya sudah melupakan kami. Padahal, tanpa kami tidak mungkin mereka bisa duduk sebagai wakil yang yang terhormat. Kami di sini merasa kecewa sekali. Mereka telah berbohong saat kampanye yang katanya akan memberikan kesejahteraan kepada kami. Mereka bohong semua,” ketus Kasmi. Menurutnya, harapan mereka supaya anggota dewan yang berasal dari dapil 4 berkunjung bukanlah untuk mengharapkan bantuan apalagi meminta uang kepada mereka, tapi warga berharap adanya kepedulian dari anggota dewan tentang penderitaan yang tengah mereka alami saat ini. Sementara itu, SDN 1 Sudan yang sebelumnya sempat meliburkan muridnya juga sudah mulai menyelenggarakan kegiatan sekolah. Namun yang menjadi masalah, murid-murid yang sekolah di sana terpaksa harus menggunakan sampan atau kelotok untuk menuju sekolah karena Desa Sudan masih tetap terendam meskipun airnya sudah terlihat surut. Sementara di Desa Patai, SDN 2 Patai yang sebelumnya juga sempat meliburkan seluruh muridnya, sejak dua hari lalu sudah memulai kegiatan belajar, meski jam belajar masih belum bisa maksimal. Sekolah yang terletak di pinggir Jalan Trans Kalimantan wilayah selatan tersebut, hanya bisa melaksanakan kegiatan belajar hingga pukul 11.00 WIB. “Setelah jam 11.00 WIB, semua murid sudah harus dipulangkan karena air mulai pasang. Kalau sudah pasang, seluruh halaman sekolah akan tergenang hingga ketinggian 50cm,” terang Kepala SDN 1 Patai Sopian (40). Selain Desa Sudan, tujuh desa di Kecamatan Cempaga dan Kecamatan Cempaga Hulu yang mulai surut antara lain, Desa Pundu, Bukit Batu, Parit, Keruing, Sungai Ubar, Pantai Harapan, dan Pelantaran. Mulai surutnya genangan banjir juga terjadi di Kabupaten Seruyan. Banjir yang sebelumnya melanda empat desa, Desa Halimung Jaya, Kartika Bakti, Mekar Indah, dan Bangun Harja kini berangsur surut dan aktivitas warga juga mulai normal. c-dis/c-adi
|
|
|
|
|
||