![]() |
|
|
||
|
||
|
||
|
BUNTOK
Tiang utama Jembatan Kalahien, salah satu jembatan terpenting yang menghubungkan Buntok dan Palangka Raya, ditabrak tongkang batu bara. Jalan di atas jembatan, pada sambungan plat besi jembatan, bergeser 5-8 cm. Dinas PU Kalteng menjamin kini jembatan aman dilewati.
Jembatan Kalahien yang membelah Sungai Barito di Barito Selatan (Barsel) terancam ambruk. Pasalnya, tiang utama jembatan sepanjang 650 meter kebanggaan masyarakat Barsel tersebut, Minggu dinihari (5/2) sekitar jam 02.30 WIB, ditabrak sebuah tongkang pengangkut batu bara. Akibat kejadian tersebut, tiang utama jembatan mengalami keretakan dan tongkang yang mengangkut batu bara dari arah Kabupaten Barito Utara (Barut) itu sempat nyangkut serta melintang cukup lama di bawah jembatan. Kapolres Barsel AKBP Djati Wiyoto Abadhy menjelaskan, kejadian bermula saat tugboat yang dinahkodai Samsudin membawa batu bara dari Beras Belangi, Barut menuju stockpile yang berada di Desa Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala, Barsel. Entah mengapa, lanjut Djati, tongkang yang berisi 4 ribu ton emas hitam tersebut tidak dapat dikendalikan oleh nakhoda, hingga kemudian menabrak tiang utama jembatan. Mengingat kondisi jembatan dalam masalah, maka semua kendaraan bermuatan lebih dari 6 ton untuk sementara dilarang melintas di atas jembatan tersebut. Bupati Barsel Farid Yusran melalui pesan pendek (SMS) yang disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan, Telekomunikasi dan Informasi Barsel Suhardi mengatakan, untuk menghindari dan mengamankan kerusakan yang sangat fatal pada jembatan, sebaiknya batu bara yang ada di dalam tongkang segera dievakuasi atau dibuang. Menyikapi instruksi tersebut, Kadis PU Provinsi Kalteng Ben Brahim, Kadishub Barsel Suhardi, Kapolres Barsel AKBP Djati Wiyoto Abadhy, dan Camat Dusun Selatan Lisda Ariyani melakukan koordinasi untuk mencari alternatif lain. Mereka mengumpulkan 5-6 tugboat, kemudian menarik tongkang tersebut hingga tiang utama jembatan terbebas dari beban berat. Informasi terakhir, Minggu pukul 15.00 WIB, tongkang yang bermuatan 4 ribu ton batu bara tersebut sudah berhasil ditarik. Pantauan Tabengan di lapangan, jalan di atas jembatan, terutama pada sambungan plat besi jembatan tampak bergeser dari posisi awal, sekitar 5-8 cm. Demikian juga pada sambungan pagar jembatan, di mana posisi awalnya sejajar (lurus), saat ini tidak lagi sejajar. Samsudin, nakhoda tugboat kepada Tabengan mengungkapkan, kejadian ini disebabkan saat posisi tugboat di sekitar Desa Pararapak yang berjarak sekitar 1 km dari Jembatan Kalahien, jarak pandang tidak normal akibat kabut. “Kabut itulah yang menyebabkan, sehingga menabrak Jembatan Kalahien,” kata Samsudin.
PU Jamin Aman Untuk memastikan penanganan Jembatan Kalahien setelah ditabrak tongkang, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kalteng Ben Brahim S Bahat didampingi Kepala Bidang Bina Marga Ridwan Manurung, Sinton, dari Seksi Jembatan dan Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK), melakukan peninjauan. Pihaknya menerima informasi itu UPTD PU Barsel, Minggu dinihari (5/2) pukul 03.00 WIB. Saat dihubungi sore kemarin, Ben dan Manurung menyatakan lalu lintas darat yang melintas jembatan sepanjang 620 m itu sudah normal, meski pada pagi harinya sempat dilakukan pembatasan muatan angkutan yang boleh lewat maksimal 6 ton. Penanganan yang dilakukan adalah menarik badan tongkang bermuatan batu bara yang menabrak 1 buah fender (pengaman tiang pondasi jembatan) itu dari tengah sungai. Sebelumnya, tongkang itu melintang searah dengan jembatan yang berada di ruas Palangka Raya-Buntok (Barsel). Dikatakannya, Jembatan Kalahien yang diresmikan Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, 25 November 2010 lalu, memiliki 6 buah fender di mana 1 grup fender berdiameter 1 meter dan pipa baja dan di dalamnya diisi cor beton bertulang. Meski 1 buah fender itu rusak total karena ditabrak tongkang, namun pihaknya menyatakan jembatan aman untuk dilintasi masyarakat. Sementara menanggapi rusaknya tiang fender tersebut, DPU Kalteng akan meminta pihak perusahaan batu bara mengganti dan membangunnya kembali. Ia meminta poor-nya yang rusak diperbaiki. Poor adalah bagian di antara tiang fender dengan lantai jembatan. Untuk permintaan penggantian dan pembangunan itu, DPU akan menyurati manajemen PT Marunda Graha Mineral (MGM). Menurut Ben, waktu yang diperlukan untuk pengerjaan tiang fender itu tergantung perusahaan dan paling cepat memerlukan waktu selama 3 bulan, karena harus dilakukan perencanaan ulang agar hasilnya maksimal dan sesuai dengan yang ditentukan. Di sisi lain, Ben juga meminta Pemkab Barsel melakukan pengaturan terhadap lalu lintas sungai, terutama saat melewati Jembatan Kalahien maupun jembatan lainnya. Pengaturan itu bisa dilakukan pihak Dinas Perhubungan setempat dengan memberlakukan sesuai prosedur tetap (protap) lalu lintas sungai. Pengaturan itu menyangkut beban angkutan yang disesuaikan dengan kondisi pasang-surut sungai agar peristiwa serupa tidak terulang. c-dan/c-lis/anr |
|
|
|
|
||